SELAMAT DATANG DI BLOG KITA
Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Dongeng Ditubuh anak-anak

Didalam diri seseorang selalu terdapat kisah entah dalam diri anak-anak ataupun dewasa. Yang membuat kisah itu sama antara anak-anak dan dewasa adalah dongeng yang melekat pada diri mereka masing-masing.

Satu kutipan yang aku ambil dari seseorang tentang "dongeng ditubuh anak-anak"

            Hakikat manusia adalah tidak pernah dewasa, sungguh – kau meyakinkanku. Ketika hujan menggandeng lonceng di pura-pu...
ra, menurunkan para dewa, kleng kleng kleng… menjelma kecipak kaki kanak-kanak dan suara katak; di genangan becek, di lumpur tanah. Cuaca ini juga sebentuk keluguan tak tersentuh dosa, ketika riwayat hidup kita memijar cahaya. Payung hanya milik orang dewasa, tapi kau katakan lagi, tak ada manusia yang menjadi dewasa, mereka kehilangan dongeng-dongeng dari tiap jengkal tubuhnya. Serta kau tanggalkan gaun tidur dan merayakan ketelanjangan Adam dan Hawa. Mari hujan-hujanan! Mari hujan-hujanan!

            Kau tahu, kenapa air hujan boleh dipakai berwudhu? Sebab ia mengandung kisah-kisah langit, kisah-kisah samawi. Menjadi sajak panjang di telapak tangan anak-anak. Dan tubuhmu adalah halaman-halaman yang hilang, yang menggenapi lubang-lubang rumpang dongengan. Tugas anak-anak lebih menyerupai kewajiban para malaikat; mengumandangkan kesucian di antara geligi geripis dirajah kembang gula, nyanyian puji-pujian yang syairnya telah dilupakan para rahib dan tabib. Mantra purba bukan “abracadabra”, melainkan “lalalalala.” Kau lari lagi ke palagan hujan yang lebih legah. Sebab anak-anak belum terlampau fasih bicara, tubuhnya lincah bersabda: Mari hujan-hujan! Mari hujan-hujanan!

            Kulit dan rambutmu harum hujan, dan gerimis membaca kembali aksara ditubuhmu, sebelum reda: Ibu adalah contoh sempurna dari relik-relik bahasa surga. Ketika hujan reda, ibu menyuruhmu mandi kembali di perigi. Air hujan punya sihir, punya madat. Lalu sampoo membuat bunga-bunga juga mekar di capit-capit kepiting. Ibu mengeringkan tubuhmu dengan handuk, sambil menyanyi Kinanti,

“Hati-hati, bu. Jangan sampai
dongeng-dongeng di tubuhku ikut tersusut…”

            Jangan lihat tulisan tersebut dari sudut pandang yang salah karna boleh jadi kita berfikir negatif bagaimana tulisan tersebut berbicara tentang para dewi , tentang surga , tentang mantra .
Tapi lihatlah tiap bait positif yang terkandung disana .
Kita tidak pernah dewasa yang ada hanya dongeng-dongeng yang terkikis habis dari tiap jengkal tubuh kita .
Hanya kita yang tau bagaimana mengembalikan yang sudah terkikis, mungkin kita dapat bertukar kisah dengan teman kita , tentang dongeng kehidupan meski tak selamanya indah.
            Banyak hal yang baik apabila kita mau berfikir positif tentang satu tulisan bahkan kita dapat menuangkannya melalui tulisan-tulisan agar dapat dibagikan kepada orang lain yang hampir jatuh pada jurang keputusasaan . setiap orang memiliki kekuatan fikiran yang akan berujung kepada fikiran positif .
            Banyak buku yang menjelaskan tentang bagaimana kebijaksanaan dituangkan dari fikiran positif , menghasilkan tindakan-tindakan positif dan hasilnya akan sesuai dengan apa yang kita fikirkan , dan jangan lupa selalu berdoa karna ada yang Maha Menentukan takdir yang tidak dapat kita ubah , Maha menggerakan hati manusia . kita hanya bisa berencana dengan terus berfikir positif dan bertukar kisah tentang dongen-dongeng kehidupan agar tidak terkikis satu katapun dongeng yang kita dengarkan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar